Bukan Sekadar Kompetisi: Melihat Perjalanan Transformasi Digital Puskesmas melalui Puskesmas Digital dan Desa Digital


Di balik sebuah layar dashboard, ada banyak aktivitas yang sering kali tidak terlihat. Ada kader yang mencatat pelayanan, petugas kesehatan yang memantau data, pekerjaan yang diberikan melalui sistem, hingga masyarakat yang berhasil dijangkau. Ketika seluruh aktivitas tersebut tercatat secara digital, data mulai menceritakan bagaimana sebuah layanan kesehatan benar-benar berjalan.
Inilah yang ingin dilihat melalui Kompetisi Digitally Enabled District (DED) 2.0 melalui Puskesmas Digital (PUSDI) dan DEDI (Desa Digital). Transformasi digital tidak cukup hanya diukur dari keberadaan aplikasi atau perangkat yang digunakan. Yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar dimanfaatkan dalam pekerjaan sehari-hari dan memberikan dukungan bagi pelayanan di tingkat Puskesmas.
Pada periode penilaian Juli - Agustus, pemanfaatan ekosistem digital dinilai melalui empat domain utama: KuApps, Dashboard, Dynamic Worker Support (DWS), dan kontribusi product knowledge Leimena Conference. Metodologi ini menggunakan data penggunaan aktual dengan melihat tujuh prinsip utama: reach, activity, distribution, completeness, access, activation,Ā dan completion.
Dalam KuApps, misalnya, perhatian tidak hanya diberikan pada jumlah pasien yang tercatat. Penilaian juga melihat apakah sasaran pelayanan berhasil dijangkau secara konsisten setiap bulan dan apakah jangkauan tersebut tersebar secara merata di berbagai desa. Sementara pada Dashboard, frekuensi akses menjadi salah satu cara untuk melihat seberapa aktif puskesmas menggunakan data untuk melakukan pemantauan.
Hal serupa terlihat dalam DWS. Jumlah akun yang tersedia belum cukup untuk menunjukkan pemanfaatan. Yang diperhatikan adalah berapa banyak akun yang benar-benar aktif dan seberapa banyak pekerjaan yang didelegasikan melalui sistem berhasil diselesaikan.
Dari seluruh indikator tersebut, setiap Puskesmas memperoleh Domain ScoreĀ yang kemudian dihitung menjadi Composite ScoreĀ sebagai dasar peringkat akhir. Hasilnya menunjukkan cerita yang menarik. Puskesmas Karangpawitan memperoleh Composite ScoreĀ tertinggi, yaitu 53,6, dan menjadi Juara Umum Utilisasi. Di tingkat desa, Sukaluyu di wilayah Puskesmas Maripari menjadi Juara Desa Teraktif, dengan rata-rata reachĀ sebesar 34,40% selama Juni hingga Agustus. Desa Sindanglaya dan Situsaeur di wilayah Puskesmas Karangpawitan menyusul di posisi berikutnya.
Namun, cerita DED bukan semata tentang siapa yang memperoleh skor tertinggi. Di balik setiap angka terdapat proses adaptasi, kebiasaan baru, dan upaya tenaga kesehatan untuk menjadikan teknologi sebagai bagian dari pelayanan.
Transformasi digital bukan tentang seberapa banyak sistem yang dimiliki. Transformasi terjadi ketika sistem tersebut digunakan, datanya dibaca, dan informasi yang dihasilkan membantu pelayanan menjadi lebih terarah.





Komentar