Hadirkan Inovasi Digital untuk Meningkatkan Kepatuhan Konsumsi MMS Untuk Ibu Hamil di Lombok, SMART-MMS Siap Membuat Terobosan
- SID Developer
- 5 jam yang lalu
- 3 menit membaca

Upaya menurunkan angka kematian ibu, kematian bayi, serta mencegah stunting tidak hanya bergantung pada ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga pada pemenuhan gizi yang optimal selama kehamilan. Berangkat dari tantangan tersebut, Summit Institute for Development (SID) meluncurkan SMART-MMS (Studi Kepatuhan Konsumsi Multi Micronutrient Supplementation oleh Ibu Hamil Melalui Digitalisasi), sebuah penelitian yang mengintegrasikan suplementasi gizi dan teknologi digital untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Pulau Lombok.
Program ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya beban masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Meskipun program suplementasi bagi ibu hamil telah lama berjalan, tingkat kepatuhan konsumsi suplemen masih menjadi tantangan yang berpengaruh terhadap efektivitas intervensi gizi. Rendahnya kepatuhan tersebut dapat meningkatkan risiko anemia selama kehamilan, bayi lahir dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, hingga berbagai masalah kesehatan yang berdampak pada tumbuh kembang anak.
Melalui SMART-MMS, SID berupaya menjawab tantangan tersebut dengan mengombinasikan pendekatan kesehatan masyarakat dan teknologi digital dalam pemantauan konsumsi Multi Micronutrient Supplementation (MMS), suplemen yang mengandung 15 vitamin dan mineral esensial untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan janin. Dibandingkan tablet tambah darah konvensional yang hanya mengandung zat besi dan asam folat, MMS memberikan dukungan nutrisi yang lebih komprehensif selama masa kehamilan.
Penelitian SMART-MMS akan berlangsung pada 2025–2027 di lima wilayah Pulau Lombok, yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara. Sebanyak 60 puskesmas dan hampir 12.000 ibu hamil akan terlibat dalam studi yang menggunakan metode randomized controlled trial atau uji coba terkontrol secara acak, salah satu metode penelitian yang dianggap sebagai standar dalam menghasilkan bukti ilmiah.
Memasuki tahap implementasi, SMART-MMS akan memulai proses enrollment peserta pada 13 Juni 2026 di 12 puskesmas dengan 23 posyandu yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur. Melalui kegiatan ini, ibu hamil yang memenuhi kriteria penelitian akan mulai direkrut untuk berpartisipasi dalam studi, sebagai upaya memperoleh bukti ilmiah mengenai efektivitas pemanfaatan teknologi digital dalam meningkatkan kepatuhan konsumsi MMS.
Project Officer SMART-MMS, Nurmalita Hartiyana Kusuma Wardani, menjelaskan bahwa fokus utama penelitian ini adalah memahami faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan konsumsi MMS dan mengidentifikasi strategi yang paling efektif untuk mendukung ibu hamil dalam menjaga konsumsi suplemen secara rutin.
“Selama ini, distribusi suplemen sering kali menjadi fokus utama. Padahal, keberhasilan program sangat ditentukan oleh apakah suplemen tersebut benar-benar dikonsumsi sesuai anjuran. SMART-MMS hadir untuk menjawab kesenjangan tersebut melalui pendekatan yang lebih terukur dan berbasis data,” ujarnya.
Keunggulan SMART-MMS terletak pada pemanfaatan teknologi digital yang dirancang untuk mendukung ibu hamil maupun tenaga kesehatan. Sistem WhatsApp Automation akan mengirimkan pengingat konsumsi MMS secara berkala sekaligus memberikan edukasi kesehatan kepada ibu hamil. Selain itu, Community Health Promoter (CHP) dapat melakukan pemantauan konsumsi menggunakan formulir digital dan teknologi AI Pill Counting yang mampu menghitung sisa tablet secara otomatis melalui foto kemasan suplemen. Seluruh informasi tersebut akan terhubung ke dashboard pemantauan yang memungkinkan pengambilan keputusan secara cepat dan berbasis data.
Inovasi ini diharapkan mampu menjawab berbagai kendala yang selama ini dihadapi dalam pelaksanaan program gizi ibu hamil, mulai dari keterbatasan pemantauan, pencatatan manual yang memakan waktu, hingga sulitnya mengetahui tingkat kepatuhan konsumsi secara akurat. Dengan sistem digital yang terintegrasi, tenaga kesehatan dapat melakukan tindak lanjut lebih cepat terhadap ibu hamil yang membutuhkan perhatian khusus.
Selain mengukur kepatuhan konsumsi MMS, penelitian ini juga akan mengkaji dampak implementasi suplementasi terhadap berbagai indikator kesehatan ibu dan bayi. Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa suplementasi MMS berpotensi menurunkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, kelahiran prematur, hingga kematian bayi baru lahir, terutama pada kelompok ibu yang mengalami anemia.
SMART-MMS juga menjadi salah satu contoh pemanfaatan transformasi digital dalam sektor kesehatan masyarakat. Melalui integrasi teknologi, penelitian ini tidak hanya menghasilkan data yang lebih akurat, tetapi juga membuka peluang bagi pemerintah untuk mengembangkan sistem pemantauan kesehatan ibu yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa mendatang.
Bagi SID, SMART-MMS bukan sekadar penelitian, melainkan bagian dari upaya membangun fondasi kesehatan sejak awal kehidupan. Dengan memastikan ibu hamil memperoleh asupan mikronutrien yang cukup dan mengonsumsinya secara teratur, program ini diharapkan dapat berkontribusi pada lahirnya generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.




Komentar