top of page

Kolaborasi Dinkes dan SUMMIT Perkuat Implementasi SMART-MMS untuk Cegah Anemia dan BBLR di Lombok Tengah

Kolaborasi dan partisipasi aktif semua pihak sangat diharapkan dalam implementasi program
Kolaborasi dan partisipasi aktif semua pihak sangat diharapkan dalam implementasi program

Roadshow Sosialisasi dan Koordinasi Implementasi SMART-MMS yang diselenggarakan di Kabupaten Lombok Tengah pada 13 Mei 2026 menjadi langkah strategis dalam mendukung upaya peningkatan kesehatan ibu hamil melalui pemanfaatan teknologi digital. Kegiatan ini melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, organisasi profesi, tenaga kesehatan puskesmas, serta tim dari Summit Institute for Development. 


Program SMART-MMS (Study of Monitoring, Adherence, and Response to Technology in Multiple Micronutrient Supplementation) merupakan studi implementasi yang bertujuan meningkatkan kepatuhan konsumsi Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) pada ibu hamil melalui pendekatan digital seperti pengingat WhatsApp otomatis, monitoring real-time, dan teknologi AI pill counting. Studi ini akan melibatkan ibu hamil di 18 puskesmas di Lombok Tengah selama periode 2026–2027.


Dalam sambutannya, Chief Executive Officer Summit Institute for Development, Yuni Dwi Setiyawati, MHID., Dietitian, menyampaikan bahwa SMART-MMS merupakan kelanjutan dari keberhasilan Program SUMMIT sebelumnya yang telah menjadi rujukan nasional maupun WHO dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Melalui integrasi teknologi digital, program ini diharapkan mampu memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan.


MMS adalah hal yang esensial untuk ibu hamil untuk menciptakan generasi yang sehat
MMS adalah hal yang esensial untuk ibu hamil untuk menciptakan generasi yang sehat

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, dr. Mamang Bagiansah, Sp.PD., FINASIM., C.M.C, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor dalam implementasi SMART-MMS. Beliau menekankan bahwa kepatuhan konsumsi MMS menjadi faktor penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu, kematian bayi, dan kasus bayi berat lahir rendah (BBLR).


Dalam sesi materi, para narasumber menegaskan bahwa MMS merupakan program nasional pemerintah yang mengandung 15 vitamin dan mineral penting bagi ibu hamil. Berdasarkan berbagai penelitian, MMS diketahui dapat membantu menurunkan risiko anemia, BBLR, stunting, kelahiran prematur, serta mendukung perkembangan optimal janin. Namun demikian, tantangan utama implementasi masih terletak pada kepatuhan konsumsi, sehingga diperlukan inovasi edukasi dan monitoring berbasis digital.


Selain paparan kebijakan dan teknis implementasi, kegiatan juga membahas alur distribusi MMS, tata cara konsumsi yang benar, mekanisme pelaporan logistik, hingga strategi edukasi bagi ibu hamil di tingkat puskesmas dan posyandu. Diskusi interaktif bersama bidan, apoteker, dan tenaga kesehatan menghasilkan berbagai masukan penting terkait efek samping, penyimpanan MMS, distribusi di wilayah desa, serta penguatan sosialisasi kepada masyarakat.


Salah satu dukungan disampaikan oleh Firdaus Kabiru Massey, S.Apt.M.Farm dari Puskesmas Wajageseng mengapresiasi hadirnya program MMS sebagai upaya penguatan intervensi gizi ibu hamil. Dalam sesi diskusi, ia juga mendorong adanya penguatan informasi terkait aspek teknis implementasi, mulai dari mekanisme distribusi dan penyimpanan hingga penanganan efek samping agar pelaksanaan program di fasilitas kesehatan dapat berjalan lebih optimal. 


Para bidan dan nakes melempar pertanyaan untuk mengetahui seluk beluk program Smart-MMS lebih dalam
Para bidan dan nakes melempar pertanyaan untuk mengetahui seluk beluk program Smart-MMS lebih dalam

Melalui kegiatan roadshow ini, seluruh pihak berharap implementasi SMART-MMS dapat berjalan optimal dan menjadi bagian penting dalam mendukung terciptanya generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bebas anemia sejak masa kehamilan.




 
 
 

Komentar


bottom of page