top of page

Membangun Budaya Riset yang Kritis dan Kolaboratif dalam Genomics and Science Dojo 3.0

Peserta Genomics and Science Dojo 3.0 berasal dari berbagai instansi dari seluruh Indonesia.
Peserta Genomics and Science Dojo 3.0 berasal dari berbagai instansi dari seluruh Indonesia.

Genomics and Science Dojo kembali hadir di tahun ketiganya sebagai ruang pengembangan kapasitas bagi para peneliti genomik dan biomedis di Indonesia. Program ini dirancang untuk memperkuat kualitas riset melalui pendekatan yang mendorong berpikir kritis, diskusi terbuka, serta kolaborasi lintas disiplin dan institusi.

Mengusung filosofi Dojo dan metodologi Shinjitsu, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis individu, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya ilmiah yang lebih sehat, inklusif, dan berorientasi pada inovasi. Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk aktif berdiskusi, mempertanyakan asumsi, serta membangun argumentasi ilmiah secara lebih mendalam. Program ini didukung oleh British Embassy Jakarta, dan diinisiasi bersama oleh Summit Institute for Development (SID), GSI Lab, dan OUCRU-ID.


Pada penyelenggaraan tahun ini, Genomics and Science Dojo 3.0 memulai rangkaian kegiatannya melalui Online Shinjitsu Class yang berlangsung selama tiga hari. Dalam sesi daring ini, peserta dari berbagai daerah saling berkenalan dan mulai membangun komunikasi dengan para sensei yang akan mendampingi mereka selama program berlangsung. Selain sesi perkenalan dan diskusi, peserta juga mempresentasikan kembali gagasan penelitian maupun perkembangan manuskrip mereka untuk mendapatkan masukan awal sebelum mengikuti minicamp luring.


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan minicamp intensif yang berlangsung pada 26–30 April 2026 di Novotel Cikini, Jakarta. Peserta dari berbagai institusi berkumpul untuk mengikuti rangkaian pelatihan, diskusi, dan kompetisi ilmiah dalam suasana yang intensif namun kolaboratif.


Peserta diuji dengan mengerjakan tugas ninja obstacles dalam waktu yang ditentukan.
Peserta diuji dengan mengerjakan tugas ninja obstacles dalam waktu yang ditentukan.

Salah satu sesi yang paling berkesan adalah wounded healer, sebuah sesi reflektif ketika peserta berbagi cerita mengenai perjalanan, tantangan, dan perjuangan mereka dalam menempuh dunia akademik dan penelitian. Sesi ini menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat bahwa setiap peneliti memiliki proses dan tantangan masing-masing.

Selama minicamp, para sensei juga menyampaikan berbagai materi terkait penyusunan penelitian genomik, penguatan kualitas data, hingga strategi pengolahan data yang sistematis dan terstruktur.

Science is always being wrong, because with being wrong, we always find the truth,” ujar Anuraj H. Shankar, D.Sc., Ph.D.,

salah satu sensei saat memberikan motivasi kepada peserta.


Selain sesi materi, peserta juga mengikuti Ninja Run, yaitu rangkaian tantangan yang dirancang untuk melatih peserta menyelesaikan berbagai tugas publikasi ilmiah secara cepat dan terfokus.

Sesi Ninja Run, Peserta berkompetisi mengerjakan tiga level tantangan berbeda dalam rentang waktu yang singkat.
Sesi Ninja Run, Peserta berkompetisi mengerjakan tiga level tantangan berbeda dalam rentang waktu yang singkat.

Tantangan ini tersebut meliputi penulisan abstrak, analisis data, hingga pengembangan pembahasan manuskrip. Dengan format yang dinamis dan intensif, sesi ini membantu peserta menghadapi berbagai hambatan yang umum ditemui dalam proses penulisan ilmiah.


Sesi Shinjitsu Tournament, yang mana para peserta saling menguji karya ilmiah mereka melalui debat.
Sesi Shinjitsu Tournament, yang mana para peserta saling menguji karya ilmiah mereka melalui debat.

Peserta juga mengikuti Shinjitsu Tournament, sesi kompetisi ilmiah tempat setiap tim mempresentasikan ide penelitian maupun draft manuskrip mereka kepada peserta lain. Dalam sesi ini, peserta memperoleh masukan langsung dari sesama peserta untuk memperkuat kualitas penelitian yang sedang dikembangkan dalam format debat ilmiah.

Pada Genomics and Science Dojo 3.0 Cycle 1, tim D0051 yang beranggotakan Almando Geraldi, S.Si., Ph.D. dan Ganis Firda Adistia, S.Si. berhasil menjadi tim terbaik pertama. Sementara posisi kedua diraih oleh tim D0039 yang terdiri dari Maulida Septiyana, M.Si. dan Adri Nora.


Para pemenang Shinjitsu Tournament Genomics and Science Dojo 3.0.
Para pemenang Shinjitsu Tournament Genomics and Science Dojo 3.0.

Salah satu peserta dari Universitas Warmadewa, Anak Agung Dewi Megawati, S.Si., M.Biomed., Ph.D., mengungkapkan kesannya selama mengikuti program ini.

“Genomics and Science Dojo adalah tempat yang sangat nyaman untuk belajar dan bertumbuh. Saya juga bertemu banyak orang hebat di sini,” ujarnya.

Kesan serupa juga disampaikan dr. Nico Gamalliel dari Universitas Indonesia. Menurutnya, atmosfer kompetitif yang tercipta selama program justru menjadi dorongan positif untuk berkembang.

“Atmosfernya sangat kompetitif karena peserta berasal dari berbagai latar belakang dan institusi. Itu mendorong kemampuan dan komitmen saya terhadap sains dan apa yang saya kerjakan,” ungkapnya.

Rangkaian Genomics and Science Dojo 3.0 akan berlanjut pada Cycle 2 yang dijadwalkan berlangsung pada 2–6 Juni 2026. Program ini diharapkan terus menjadi ruang belajar, bertukar gagasan, dan memperkuat jejaring kolaborasi bagi para peneliti muda di Indonesia.

 
 
 

Komentar


bottom of page