top of page

SMART-MMS Memasuki Fase Tengah Studi, Data Lapangan Jadi Dasar Penguatan Program

18 jam yang lalu
2 menit membaca
Pemaparan perkembangan studi SMART-MMS
Pemaparan perkembangan studi SMART-MMS

Studi SMART-MMS bersama sub-studi pemberian kalsium memasuki salah satu tahapan penting melalui pelaksanaan laporan mid-term dan sub-studi kalsium pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan yang digelar secara daring ini mempertemukan tim SUMMIT dengan para pemangku kebijakan dan mitra kesehatan di Lombok untuk melihat perkembangan studi sekaligus mendiskusikan temuan sementara dari pelaksanaan di lapangan.


Kegiatan dibuka dengan sambutan Yuni Dwi Setiyawati, MHID., Dietitian, CEO Summit Institute for Development (SUMMIT). Ia menekankan pentingnya forum mid-term sebagai ruang untuk melihat perkembangan studi secara bersama, sekaligus memastikan implementasi tetap berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.


Sambutan berikutnya disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS. Dia menyampaikan bahwa keberhasilan program tidak bisa dicapai secara parsial. Program memerlukan kerja sama Dinkes, POGI, BRIDA, dan pihak lainnya agar hasil studi dapat diadopsi dan diintegrasikan ke dalam program pemerintah.


Pemaparan perkembangan studi kemudian disampaikan Una Dika Firmanila, S.T., MURP, selaku Project Lead SMART-MMS. Ia menjelaskan capaian enrollment rate pada masing-masing kabupaten dan kota di Lombok, termasuk pola keterlibatan ibu hamil dari wilayah perkotaan dan perdesaan.


Presentasi juga membahas distribusi tablet MMS kepada ibu hamil serta penggunaan mekanisme gamifikasi untuk mendorong kepatuhan konsumsi. Data mengenai luaran kehamilan peserta SMART-MMS turut menjadi bagian dari laporan, memberikan gambaran mengenai perkembangan peserta hingga fase tengah penelitian.


Pembahasan dari sisi implementasi dilanjutkan oleh Lia Rosida, S.Pd., M.Dev.St, selaku COO SUMMIT. Ia memaparkan berbagai keluhan yang disampaikan ibu hamil selama mengikuti studi dan bagaimana keluhan tersebut ditindaklanjuti oleh tim secara langsung. Distribusi MMS di lapangan juga menjadi perhatian, termasuk kesiapan pelaksanaan program MMS yang tengah dikembangkan oleh pemerintah pusat.


“Dalam pertemuan ini, kami juga mengumumkan akan memulai sub-studi berupa pemberian kalsium sebagai suplemen tambahan untuk ibu hamil,” ujar Nurmalita Hartiyana Kusuma Wardani, selaku Project Officer SMART-MMS dalam pemaparan lainnya terkait sub-studi kalsium. Rekrutmen peserta akan dimulai pada Oktober 2026, dengan proses pemantauan yang berlangsung hingga Juni 2027. Selama periode tersebut, pemantauan dan pelaporan akan dilakukan secara berkala dengan mengikuti mekanisme pelaporan yang telah diterapkan dalam studi MMS. 


Dari sisi ilmiah, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A., MPH, sebagai perwakilan Scientific Board Member SMART-MMS, menyampaikan materi mengenai konsep promosi kesehatan. Pendekatan ini menjadi bagian penting untuk memastikan intervensi nutrisi tidak berhenti pada pemberian tablet, tetapi juga mendorong pemahaman dan perilaku kesehatan peserta.


Sementara itu, dr. A. Rusdhy H. Hamid, Sp.O.G., Subsp. KFm., MARS, juga dari Scientific Board Member, membahas ko-administrasi kalsium dan MMS dari perspektif ilmiah. Ia memaparkan berbagai hasil riset mengenai efektivitas MMS dan kalsium, termasuk kaitannya dengan kebutuhan nutrisi selama kehamilan dan perkembangan janin.

“Kebutuhan asupan kalsium pada trimester pertama sebesar 90,6%, sehingga kalsium sangat dibutuhkan oleh ibu hamil,” ungkapnya.


Forum mid-term ini menjadi ruang untuk mempertemukan data penelitian, pengalaman peserta, implementasi lapangan, dan perspektif ilmiah. Hasil pembahasan diharapkan dapat menjadi pijakan untuk memperkuat pelaksanaan studi SMART-MMS dan sub-studi kalsium pada tahap berikutnya.

 
 
 

Komentar


bottom of page