Dialog ILP: Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Primer yang Terintegrasi melalui Ekosistem Digital

Transformasi digital kesehatan terus berkembang seiring dengan kebutuhan untuk menghadirkan pelayanan kesehatan primer yang lebih terintegrasi, terhubung, dan berbasis data. Dalam konteks tersebut, ekosistem digital menjadi salah satu bagian penting untuk mendukung Integrasi Layanan Primer (ILP), tidak hanya dalam menghubungkan sistem dan data, tetapi juga dalam memperkuat proses pengambilan keputusan di tingkat pelayanan.
Melalui dialog bertajuk “DIALOG ILP #14 : Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Primer yang Terintegrasi melalui Ekosistem Digital”, yang diselenggarakan secara daring pada 17 September 2026, para praktisi berbagi perspektif mengenai kebijakan, pendekatan konseptual, hingga pengalaman implementasi ekosistem digital di tingkat kabupaten dan Puskesmas dibagikan kepada peserta.

Dalam sesi mengenai kebijakan dan arah transformasi digital kesehatan, Sigit Wibowo, S.Kom., M.K.M., menyampaikan dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan terhadap pengembangan ekosistem digital. Digitalisasi data kesehatan diarahkan agar data dapat terhubung dan pada akhirnya menghasilkan keluaran kesehatan yang sesuai dengan profil masing-masing individu.
Namun, integrasi layanan primer tidak berhenti pada persoalan teknologi. Dewi Nur Aisyah, MSc., DIC., PhD., FRSPH., menekankan bahwa integrasi perlu dipahami secara lebih luas. ILP bukan sekadar menyatukan layanan, melainkan juga menyatukan cara memahami kebutuhan masyarakat, mengorganisasi pelayanan, menghubungkan berbagai aktor, serta menggunakan data untuk bertindak.
Perspektif implementasi di tingkat daerah turut dibagikan oleh Apt. Yodi Sirodjudin, S.Si., M.H.Kes., dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut. Pengalaman implementasi Digitally Enabled District (DED) menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem digital perlu terus dilakukan berdasarkan masukan tenaga kesehatan di lapangan, hasil ulasan, serta diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan. Dengan proses tersebut, ekosistem digital diharapkan semakin mampu menghubungkan data dengan aksi.
Di tingkat Puskesmas, Titin Sumarni, S.ST., SKM., BDN., M.Kes., membagikan praktik penerapan ekosistem digital di Puskesmas Karangpawitan. Digitalisasi dinilai membantu tenaga kesehatan garis depan, khususnya dalam mengelola data lapangan yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.
Dialog ini juga menunjukkan tingginya perhatian terhadap pengembangan ekosistem digital kesehatan. Sebanyak 10.381 peserta memperoleh SKP melalui LMS Kemenkes, sementara 40 kabupaten menyatakan ketertarikan untuk mempelajari lebih lanjut implementasi ekosistem DED. Diskusi juga menghasilkan 17 pertanyaan dan refleksi, terutama mengenai penerapan ekosistem kesehatan digital terintegrasi di tingkat kabupaten dan fasilitas pelayanan kesehatan primer.
Dialog ini menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana data, teknologi, sumber daya manusia, dan tata kelola dapat saling terhubung untuk mendukung pelayanan kesehatan primer. Pengalaman di tingkat kabupaten dan Puskesmas menunjukkan bahwa transformasi digital merupakan proses yang perlu terus dikembangkan bersama, berangkat dari kebutuhan di lapangan dan diarahkan untuk menghasilkan data yang dapat digunakan sebagai dasar bagi tindakan.




Komentar