top of page

Ketika Kecerdasan Buatan Menguatkan Layanan Kesehatan Primer: Harapan Baru bagi Masa Depan Kesehatan Ibu dan Anak

Gambar 1. Promotor kesehatan masyarakat Summit mendemonstrasikan antarmuka pengguna (user interface) dari alat OCR dan predictive.

Gambar 1. Promotor kesehatan masyarakat Summit mendemonstrasikan antarmuka pengguna (user interface) dari alat OCR dan predictive.


Program KONEKSI Project AI-in Healthcare telah dimulai sejak 2024 sebagai bagian dari kolaborasi untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Indonesia melalui pemanfaatan kecerdasan buatan. Inisiatif ini memperoleh pendanaan kompetitif melalui dan mendapat “Flourish Funding” dari Australian Government, melalui program Dana Hibah KONEKSI setelah melalui proses seleksi dan penilaian ketat yang menekankan inovasi, relevansi kebijakan, serta potensi dampak implementatif. Dukungan ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat pengembangan dan uji coba solusi berbasis kecerdasan buatan di tingkat pelayanan primer.


Pada 2–6 Februari 2026, momentum baru tercipta ketika mitra konsorsium dari Australia dan Jakarta melakukan kunjungan strategis ke salah satu lokus implementasi untuk melihat langsung perkembangan di lapangan sekaligus memperdalam diskusi teknis. Konsorsium yang dipimpin oleh Summit Institute for Development (Summit Institute) dan beranggotakan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Universitas Mataram (UNRAM), serta Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia menggelar rangkaian agenda intensif yang memadukan diskusi strategis, validasi lapangan, pengembangan model AI, hingga penguatan publikasi ilmiah. Program ini memiliki empat lokus utama, yaitu Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Garut. Kunjungan lapangan kali ini difokuskan di wilayah kerja Puskesmas Narmada, Kabupaten Lombok Barat, sebagai salah satu representasi implementasi di tingkat layanan primer.


Menyelaraskan Arah dan Strategi Pengembangan AI

Agenda diawali dengan pemaparan perkembangan proyek, termasuk infrastruktur data, pengembangan sistem Optical Character Recognition (OCR), serta kemajuan model prediktif yang sedang dibangun. Diskusi berlangsung terbuka dan strategis, memastikan seluruh mitra memiliki pemahaman yang selaras terkait capaian, tantangan, dan langkah ke depan.


Salah satu sesi penting membahas potensi pemanfaatan AI untuk mendorong transformasi layanan kesehatan primer secara lebih luas. Pendekatan yang dibangun tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pada penguatan sistem dan peningkatan kualitas pengambilan keputusan berbasis data. Sesi ini dilanjutkan dengan pendalaman terhadap tiga fokus utama pengembangan AI, yaitu prediksi probabilitas perilaku pencarian layanan kesehatan oleh ibu hamil dalam memanfaatkan pelayanan Antenatal Care (ANC), analisis kemungkinan kombinasi intervensi dan pelayanan yang memengaruhi luaran kesehatan, serta prediksi kinerja tenaga kesehatan untuk mendukung penguatan manajemen layanan.


Dari Buku KIA ke Sistem Prediktif: Validasi di Lapangan

Sebagai bagian dari proses validasi, konsorsium mengunjungi Posyandu Jerangoan 1 di Desa Kramajaya, wilayah kerja Puskesmas Narmada. Di lokasi ini, tim mengamati langsung bagaimana kader melakukan pelayanan rutin ibu dan balita, termasuk pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas, yang seluruh hasilnya dicatat secara manual di dalam Buku KIA. Buku KIA menjadi fondasi utama sistem ini. Selama ini, data yang tersimpan dalam bentuk tulisan tangan sulit terbaca dan dianalisis secara cepat dan komprehensif. Melalui teknologi OCR, catatan kertas dapat dipindai dan diubah menjadi data digital yang tersusun rapi dalam format yang bisa dibaca komputer. Data tersebut diproses dan disimpan di sistem bagian dalam (backend) menggunakan standar Fast Healthcare Interoperability Resources (FHIR) agar bisa terhubung dengan data dari sistem informasi kesehatan lain. Setelah diperiksa dan divalidasi, data tersebut kemudian digunakan sebagai bahan untuk model AI prediktif yang sedang dikembangkan. Kunjungan juga dilakukan ke Puskesmas Narmada untuk memahami alur pelayanan, meninjau sistem aplikasi yang telah digunakan, serta mendiskusikan integrasi teknologi AI ke dalam sistem yang sudah berjalan. Pendekatan ini memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan praktik pelayanan sehari-hari.


Gambar 2. Kunjungan Posyandu: Mendorong Pemanfaatan AI dalam Layanan Kesehatan Primer (Posyandu Jerangoan 1, Desa Krama Jaya) – Foto bersama kader, pimpinan desa, perwakilan Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, SID, BRIN, dan CSIRO.


Gambar 3. Kunjungan Puskesmas: Mendorong Transformasi Digital dalam Layanan Kesehatan Primer (Puskesmas Narmada, Lombok Barat).


Dari Catatan Kertas ke Prediksi: Memperkuat Pengambilan Keputusan di Layanan Garis Depan

Transformasi ini dimulai dari data. Selama ini, data pelayanan ibu dan anak tersedia dalam jumlah besar, tetapi tidak terkoneksi dan hanya digunakan untuk pelaporan. Dengan digitalisasi, catatan kertas menjadi data digital. Selanjutnya, kecerdasan buatan prediktif mengubah data tersebut menjadi rekomendasi tindakan. Model yang dikembangkan berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan, membantu tenaga kesehatan mendeteksi risiko lebih dini, menentukan prioritas tindak lanjut, serta memperkirakan kebutuhan intervensi secara lebih tepat. Pendekatan ini mendorong layanan menjadi lebih preventif dan berbasis data.


Suara dari Tenaga Garis Terdepan di Layanan Primer

Bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Narmada, inisiatif ini bukan sekadar proyek teknologi.dr. I Komang Sutrisna Budiyasa, Kepala Puskesmas Narmada, menyampaikan bahwa pendekatan berbasis AI dapat menjadi alat bantu yang memperkuat pengambilan keputusan klinis.

“OCR dan AI Prediktif bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, tetapi membantu menutup kesenjangan dan mendukung kami dalam mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Rita Sosilo, Penanggungjawab Klaster Ibu Hamil dan Balita dan Fri Noviani, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat menyoroti tantangan pencatatan manual yang selama ini memakan waktu.

“Harapan kami, AI dapat membantu mempercepat proses pengolahan data sehingga pelayanan menjadi lebih efisien dan responsif,” ungkapnya.

Testimoni ini memperlihatkan bahwa transformasi digital yang dibangun memiliki relevansi nyata bagi pengguna di lini depan.


Menuju Skala yang Lebih Luas

Kunjungan ditutup dengan penguatan publikasi ilmiah dan pembahasan kolaborasi lanjutan. Implementasi di Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Garut dirancang untuk membangun model yang dapat direplikasi secara nasional. Transformasi ini bukan hanya tentang digitalisasi Buku KIA, tetapi tentang bagaimana data yang sebelumnya tersimpan pasif dapat digunakan untuk mendukung keputusan berbasis bukti demi kesehatan ibu dan anak yang lebih baik.




 
 
 

Komentar


bottom of page