Perkuat Pemanfaatan Ekosistem Digital, Kabupaten Garut Dorong Percepatan Implementasi DED 2.0

Transformasi digital di sektor kesehatan tidak berhenti pada tersedianya aplikasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi benar-benar digunakan dalam pekerjaan sehari-hari, dipahami oleh tenaga kesehatan dan kader, serta mampu mendukung proses pelayanan di tingkat fasilitas kesehatan.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Technical Meeting on Utilization Report and Acceleration Plan yang mempertemukan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, sembilan Puskesmas, dan Summit Institute for Development (SUMMIT). Pertemuan ini merupakan bagian dari implementasi Digitally Enabled District (DED) 2.0, sebuah inisiatif yang mendorong penguatan end-to-end ekosistem kesehatan digital secara terintegrasi, mulai dari tingkat masyarakat dan Posyandu hingga Puskesmas dan Dinas Kesehatan.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk melihat perkembangan pemanfaatan ekosistem kesehatan digital sekaligus menyusun langkah percepatan implementasi di lapangan. Fokus DED 2.0 tidak hanya pada pengembangan dan penyediaan teknologi, tetapi juga pada peningkatan pemanfaatan, kualitas data, interoperabilitas sistem, serta penguatan kapasitas pengguna agar teknologi dapat menjadi bagian dari proses kerja rutin.
Dalam pemantauan periode September 2026, sejumlah komponen dalam Digital Health Ecosystem telah digunakan di Puskesmas dan tingkat desa. Ekosistem tersebut mencakup KuApps untuk mendukung pencatatan di tingkat desa dan Posyandu, PWS Dashboard untuk pelaporan dan pemantauan, serta Dynamic Worker Support (DWS) untuk mendukung pengelolaan penugasan. BUNDA HEBAT HealthComm juga terus dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem komunikasi kesehatan digital di Kabupaten Garut.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan belum seragam antarwilayah. Beberapa desa telah menunjukkan penggunaan aplikasi yang cukup aktif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada ketersediaan sistem, tetapi juga pada kebiasaan penggunaan, kesiapan pengguna, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Salah satu perkembangan yang terus diperkuat adalah pemanfaatan KuApps. Saat ini KuApps telah tersedia di Google Play Store dengan nama “KuApps Garut”, sehingga semakin mendukung akses dan penggunaan aplikasi di tingkat kader. Penguatan juga dilakukan pada kualitas penggunaan KuApps oleh kader, sehingga pencatatan tidak hanya semakin luas tetapi juga semakin sesuai dengan kebutuhan pelayanan di lapangan.
Selain itu, integrasi data antara KuApps dan SIGIZI telah semakin diperkuat. Saat ini tujuh formulir utama dalam SIGIZI telah termapping dengan KuApps Export, sehingga data yang dikumpulkan melalui KuApps dapat diekspor dan diimpor ke SIGIZI. Dengan alur tersebut, bidan tidak perlu melakukan pengisian ulang data yang sama di SIGIZI,sehingga proses pencatatan menjadi lebih efisien sekaligus mengurangi duplikasi pekerjaan.
Pada sisi pemantauan, kelengkapan dan pemanfaatan PWS Dashboard juga menjadi perhatian. Dashboard tidak hanya diposisikan sebagai tempat melihat data, tetapi sebagai alat untuk membantu Puskesmas memantau kondisi wilayah, mengidentifikasi data yang perlu ditindaklanjuti, dan mendukung pengambilan keputusan. Karena itu, penguatan ke depan diarahkan tidak hanya pada kelengkapan data, tetapi juga pada konsistensi pemanfaatan dashboard dalam kegiatan monitoring rutin di Puskesmas.
Pada komponen HealthComm, penguatan komunikasi kesehatan digital juga terus dilakukan. Kabupaten Garut kini telah memiliki akun BUNDA HEBAT khusus untuk mendukung komunikasi kesehatan di tingkat kabupaten, termasuk melalui WhatsApp Channel. Pengembangan ini diharapkan dapat memperluas kanal komunikasi dan penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan pemanfaatan HealthComm di tingkat daerah.
Selain pemanfaatan sistem, peningkatan kualitas data menjadi bagian penting dalam implementasi DED 2.0. Data yang telah terkumpul melalui ekosistem digital secara berkala ditinjau untuk memastikan bahwa data yang tersedia tidak hanya lengkap, tetapi juga masuk akal dan dapat digunakan. Pada pemantauan terakhir, perhatian khusus diberikan pada data antropometri, termasuk mengidentifikasi pola heaping, nilai yang tidak wajar, maupun data yang berpotensi menunjukkan kesalahan pengukuran atau pencatatan. Temuan tersebut kemudian ditelusuri untuk memahami root cause dan menentukan tindak lanjut bersama Puskesmas.
Melalui pendekatan tersebut, hasil pemantauan tidak ditempatkan semata sebagai penilaian capaian Puskesmas. Data justru digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan masing-masing wilayah dan menentukan bentuk pendampingan yang lebih tepat. Puskesmas dengan tantangan pada penggunaan KuApps, misalnya, membutuhkan penguatan berbeda dengan Puskesmas yang perlu meningkatkan kelengkapan pelaporan, pemanfaatan dashboard, kualitas data, atau penyelesaian penugasan melalui DWS.
Ke depannya, percepatan DED 2.0 akan diarahkan pada pemerataan pemanfaatan di tingkat desa, penguatan peran pengguna, peningkatan kualitas dan interoperabilitas data, konsistensi pelaporan, serta pemanfaatan sistem sebagai bagian dari aktivitas kerja rutin. Penguatan juga akan dilakukan dengan memastikan bahwa berbagai komponen digital dalam ekosistem DED 2.0 tidak berjalan secara terpisah, tetapi saling mendukung dalam satu alur kerja, mulai dari pencatatan data, integrasi, pemantauan, hingga tindak lanjut di lapangan.
Kolaborasi antara Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Puskesmas, tenaga kesehatan, kader, dan SUMMIT menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Melalui DED 2.0, transformasi digital diarahkan bukan hanya untuk menghadirkan lebih banyak teknologi, tetapi untuk membangun ekosistem dan cara kerja yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan berkelanjutan dalam mendukung pelayanan kesehatan primer di tingkat masyarakat.




Komentar