Dari Lapangan ke Nasional: Kolaborasi Lintas Sektor dan Teknologi AI Dorong Transformasi Layanan Kesehatan Ibu dan Anak
- SID Developer
- 1 day ago
- 4 min read

CEO Summit Institute for Development Bagikan Pengalaman Inovasi AI untuk Memperkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
Tantangan kesehatan ibu dan anak masih menjadi isu global yang belum terselesaikan. Hasil kehamilan yang merugikan tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal, dengan beban tertinggi terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan antenatal bagi ibu hamil. Di saat yang sama, metode penilaian risiko yang digunakan saat ini sering kali belum memadai, khususnya di lingkungan dengan sumber daya terbatas, sehingga deteksi dini belum berjalan optimal.
Di Indonesia, situasi ini tercermin dari masih tingginya angka kematian ibu yang berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup, serta prevalensi stunting yang mencapai 19,8% pada tahun 2024. Tantangan semakin kompleks dengan meningkatnya penyakit tidak menular pada ibu hamil, seperti hipertensi dan diabetes gestasional, yang berkontribusi terhadap risiko komplikasi.
Dalam forum IDE Katadata Future Forum 2026, CEO Summit Institute, Yuni Dwi mengemukakan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menembus hambatan layanan kesehatan. Pendekatan ini menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, peneliti, dan implementer di lapangan, baik melalui mekanisme top-down maupun bottom-up agar solusi yang dihasilkan tidak hanya kuat secara kebijakan, tetapi juga relevan secara implementasi. Hal ini sejalan dengan sorotan Katadata bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan faktor krusial dalam transformasi layanan kesehatan.
Inisiatif ini merupakan bagian dari kemitraan strategis Indonesia–Australia melalui KONEKSI, yang dipimpin oleh Summit Institute for Development (SID) dan melibatkan kolaborasi lintas institusi, termasuk Universitas Mataram (UNRAM), BRIN, serta mitra internasional seperti CSIRO.
Implementasi inisiatif ini dilakukan dengan mengacu dan mendukung arah kebijakan Kementerian Kesehatan sebagai otoritas utama sektor kesehatan di Indonesia. Dalam konteks yang lebih luas, SID juga merupakan bagian dari konsorsium Kementerian Kesehatan dalam akselerasi Integrasi Layanan Primer (ILP). Pendekatan ini menempatkan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) sebagai fondasi utama, untuk memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan menjangkau kelompok rentan dan kurang terlayani.
Memulai dari Fondasi: Penguatan Kapasitas Tenaga Kesehatan
Transformasi digital tidak dapat berdiri sendiri tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang kuat. Oleh karena itu, pendekatan ini diawali dengan asesmen kompetensi terhadap ribuan bidan di berbagai daerah untuk memetakan kapasitas mereka dalam memberikan layanan kesehatan ibu dan anak. Asesmen ini mengacu pada kompetensi inti bidan, mencakup area utama dalam continuum of care. Hasil pemetaan ini menjadi dasar untuk memahami kesenjangan kapasitas serta merancang intervensi yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan harus dimulai dari penguatan tenaga kesehatannya.

Sharing materi tentang Inovasi AI untuk Memperkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
Membangun dari yang Sudah Ada: Mengoptimalkan Sistem dan Data
Alih-alih membangun sistem baru dari nol, pendekatan yang dilakukan berangkat dari optimalisasi sistem yang telah tersedia. Salah satu sumber data yang paling kaya adalah buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), yang selama ini masih berbasis manual. Melalui pemanfaatan teknologi Optical Character Recognition (OCR), data dari buku KIA dapat dikonversi menjadi data digital hanya melalui foto. Langkah ini mempercepat proses pencatatan sekaligus membuka peluang pemanfaatan data secara real-time.
Selanjutnya, integrasi dilakukan menggunakan standar interoperabilitas seperti Fast Healthcare Interoperability Resources (FHIR), sehingga data dapat terhubung dengan berbagai sistem kesehatan yang sudah ada. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan ekosistem sistem yang terbuka dan interoperable. Dalam arsitektur federated FHIR system, setiap nodus server dengan standar yang sama dapat saling berbagi data secara aman tanpa harus terpusat di satu sistem. Dengan demikian, pertukaran data lintas fasilitas dan wilayah menjadi lebih fleksibel, sekaligus menjaga kedaulatan data di masing-masing institusi.
Setelah fondasi data dan interoperabilitas terbentuk, analisis berbasis AI dimanfaatkan untuk mendukung prediksi risiko kehamilan. Hasil analisis ini digunakan sebagai decision support bagi tenaga kesehatan, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Menuju Scale-Up: Dari Inovasi ke Sistem yang Terintegrasi
Implementasi awal menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya inovatif, tetapi juga feasible dan relevan dengan kebutuhan di lapangan, khususnya dalam mendukung kerja tenaga kesehatan di layanan primer. Untuk tahap pengembangan lebih lanjut, strategi scale-up difokuskan pada integrasi sistem, penguatan kapasitas tenaga kesehatan, serta adaptasi sesuai konteks lokal. Kabupaten Garut. menjadi salah satu daerah percontohan dalam pengembangan ini, melalui inisiatif menuju kabupaten kesehatan digital yang terintegrasi. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana transformasi digital dapat diimplementasikan secara sistemik di tingkat daerah, dengan menghubungkan penguatan layanan, data, dan kapasitas tenaga kesehatan.
Dengan kombinasi antara kebijakan, teknologi, dan implementasi lapangan, model ini membuka peluang untuk direplikasi di berbagai wilayah di Indonesia.
Masa Depan Layanan Kesehatan yang Lebih Cerdas dan Inklusif
Transformasi layanan kesehatan bukan semata tentang digitalisasi, tetapi tentang bagaimana sistem dapat memperkuat kapasitas manusia di dalamnya. Teknologi berperan sebagai enabler, sementara tenaga kesehatan tetap menjadi aktor utama dalam memberikan layanan.
Melalui penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan data yang lebih optimal, serta kolaborasi lintas sektor, Indonesia bergerak menuju sistem kesehatan primer yang lebih tangguh, adaptif, dan inklusif.
Di masa depan, pendekatan seperti ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga memastikan bahwa setiap ibu dan anak, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat.

Salah satu tantangan pemerataan layanan kesehatan di indonesia adalah Sumber Daya Manusia yang belum maksimal.




Comments